Regulator sekuritas Malaysia telah mengeluarkan pernyataan peringatan investor publik tentang risiko yang terkait dengan penggalangan dana ICO (initial coin offering).

Dalam rilis publiknya tersebut, Securities Commission Malaysia (SC) telah mengingatkan para investor untuk tetap ‘hati-hati’ terhadap risiko dalam ‘skema aktivitas pengumpulan dana yang berbasis digital token/skema investasi’. Badan Regulator tersebut menyebutkan Bitcoin dan Ethereum sebagai dua mata uang virtual yang digunakan oleh investor selama penjualan token digital oleh ‘operator skema ICO’.

Badan Regulator Malaysia menambahkan bahwa beberapa skema ICO ini mungkin tidak diatur dan berpotensi dimanfaatkan penipu untuk menarik investor “penipuan, pencucian uang dan pendanaan terorisme.” Badan tersebut juga berpendapat bahwa token digital yang diperdagangkan di pasar sekunder setelah penerbitan dapat menyebabkan kerugian “harga volatile atau harga tidak sesuai”.

Pernyataan tersebut juga mendesak investor untuk “memahami sepenuhnya fitur dan inner pekerjaan penjualan token digital. Whitepaper juga harus kita perhatikan secara seksama dan teliti. Untuk menghindari kerugian besar serta terhindar dari skema penipuan.”

Badan Regulator Malaysia menyatakan:

Investor yang ingin terlibat atau berinvestasi dalam skema ICO Kami ingatkan kembali untuk mencari penasihat profesional yang legal atau lainnya jika ada keraguan mengenai legitimasi skema ICO.

Pernyataan yang dikeluarkan oleh Malaysia tersebut tergabung dengan serentetan peringatan lain dari beberapa regulator dan otoritas Negara di seluruh dunia yang telah menyoroti kegiatan ICO masa kini.

Segera setelah larangan ICO China keluar, bank sentral Rusia juga secara cepat menerbitkan sebuah pernyataan publik mengenai risiko yang terkait dengan cryptocurrency dan ICO. Regulator dari Singapura, Hong Kong dan Amerika Serikat juga telah mengeluarkan peringatan tentang ICO dalam beberapa bulan terakhir ini.